Salah
satu ikon sejarah kota Makassar adalah Benteng Rotterdam. Benteng Rotterdam
atau Benteng Ujung Pandang (Jum
Pandang) yang sekarang lebih dikenal dikenal dengan nama Benteng Makassar.
Terletak di jalan Ujung Pandang, benteng ini adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.
Benteng Rotterdam dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Awal dibangunnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas dari Pegunungan Karst di daerah Maros. Bila dilihat dari atas bentuk fisik dari benteng ini berbentuk seperti seekor penyu (panynyu) yang seolah merangkak menuju ke lautan di sebelah baratnya. Dari segi filosofi, bentuk penyu ini sebagai symbol bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut, begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan.
Fort Rotterdam adalah
salah satu dari sekian banyak benteng yang dibangun pada masa Kerajaan Gowa,
sebagai pengawal dari benteng induk Somba Opu. Benteng-benteng pengawal lainnya
seperti Benteng Kale Gowa, Benteng Barombong, Benteng Garassi, Benteng
Panakkukang, Benteng Mangara Bombang, dan Benteng Ana' Gowa.
Ditulis di Makassar, 14 Agustus 2012
Terletak di jalan Ujung Pandang, benteng ini adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.
Benteng Rotterdam dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Awal dibangunnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas dari Pegunungan Karst di daerah Maros. Bila dilihat dari atas bentuk fisik dari benteng ini berbentuk seperti seekor penyu (panynyu) yang seolah merangkak menuju ke lautan di sebelah baratnya. Dari segi filosofi, bentuk penyu ini sebagai symbol bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut, begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan.
Pada
tahun 1667, kerajaan Gowa-Tallo menandatangai perjanjian Bungayya yang salah
satu isi perjanjiannya adalah mewajibkan kerajaan Gowa untuk menyerahkan
benteng ini kepada Belanda, pada saat Belanda menempati benteng ini dan
mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman
yang waktu itu menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda sengaja memilih nama
Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda, Rotterdam.
Benteng ini kemudian difungsikan sebagai gudang penampungan rempah-rempah.
Didalam
kompleks Benteng Rotterdamterdapat 13 bangunan yang masih berdiri kokoh, salah
satunya adalah Museum La Galigo yang didalamnya banyak terdapat referensi
mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya di
Sulawesi Selatan. Selain itu, terdapat juga tempat penahanan Pangeran
Diponegoro pada tahun 1834 oleh Belanda.
Pada
tahun 2010 Benteng Rotterdam direvitalisasi dengan menambahkan sebuah taman kota
di bagian selatan dengan menggunakan dana APBN 2010 sekitar Rp 8,9 miliar.
Sebuah Kanal berukuran besar juga terbentang dari barat ke timur menambah
keindahan sisi selatan benteng.
Kini,
Benteng Rotterdam menjadi salah satu destinasi wisata paling popular di
Makassar, baik bagi wisatawan asing maupun wisatawan local. Tak kurang dari
seratusan orang berkunjung ke benteng ini setiap harinya. Di malam hari, di
sekitar benteng ini sangat ramai oleh aktivitas warga Makassar menikmati malam.
Ada food court besar di depan benteng, di bagian depan benteng agak ke selatan
berjejer tenda-tenda yang menjajakan aneka makanan dan minuman, di sisi utara
benteng juga berjejer tenda dengan menu air kelapa muda.
Inilah bukti sejarah
yang telah berpindah tangan dari generasi ke generasi.
Disadur dari berbagai sumberDitulis di Makassar, 14 Agustus 2012

1 comment:
Wow, baru tahu kalau Fort Rotterdam ini filosifinya kayak begitu. Keren.
By the way, saya selalu suka kalau jalan-jalan ke sana, sayangnya banyak alay yang suka merusak, terutama dinding-dindingnya banyak coretan di sana-sini. Sayang sekali.
Post a Comment